Batas Waktu Aqiqah Anak Perempuan Sesuai Ajaran Islam

Batas Waktu Aqiqah Anak Perempuan

KAWANPUAN.COM – Secara umum, batas waktu terbaik untuk melaksanakan aqiqah anak perempuan adalah di hari ketujuh setelah kelahiran bayi menurut sunnah rasul.

Lantas, bagaimana cara menentukan hari ke tujuh untuk melaksanakan aqiqah anak perempuan?

Sesuai dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyah bahwa jika bayi lahir siang hari, maka sudah termasuk hari pertama dari tujuh hari.

Sedangkan jika bayi dilahirkan pada waktu malam, tidak termasuk dalam hitungan. Hari pertama adalah hari berikutnya.

Misalnya, ketika bayi lahir pada Sabtu pagi, maka hari tersebut sudah di anggap sebagai hari pertama dari tujuh hari dalam batas waktu aqiqah anak perempuan.

Sehingga orang tuanya akan mengerjakan aqiqah pada hari Jumat minggu depannya. Sebaliknya, jika bayi lahir Sabtu malam, maka hari pertamanya adalah hari Minggu keesokan paginya.

Sehingga orang tuanya boleh melaksanakan aqiqah pada hari Sabtu minggu depannya. Namun, menurut Mazhab Syafi’i, aqiqah tetap dapat dilaksanakan setelah melewati hari ke tujuh kelahiran bayi.

Ada sebagian yang menggunakan tata cara waktu aqiqah pada 14 atau 21 hari setelah kelahiran bayi. Bahkan, Mazhab Syafi’i tetap menganjurkan aqiqah walaupun anak tersebut telah meninggal dunia sebelum hari ke tujuh.

Tata Cara Aqiqah Anak Perempuan

Menyembelih Kambing

Tata cara aqiqah sesuai sunnah rasul yang pertama adalah menyembelih kambing. Untuk aqiqah anak perempuan, jumlah kambing yang dikurbankan adalah sebanyak satu ekor. Hal ini menilik pada hadis yang di riwayatkan oleh Abu Dawud yang berbunyi:

“Dari Ummu Kurz ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda ‘Untuk seorang anak laki-laki adalah dua ekor kambing dan untuk akan perempuan adalah seekor kambing. Tidak mengapa bagi kalian apakah ia kambing jantan atau betina’.” (HR. Abu Dawud no. 2834-2835).

Syarat kambing yang akan di sembelih untuk aqiqah sama halnya dengan hewan kurban, yaitu kambing yang berkualitas, baik dari segi jenis hingga usia. Kambing juga harus bebas dari cacat dan penyakit.

Sebelum menyembelih kambing untuk aqiqah, di sunnahkan untuk membaca doa sebagai berikut: “Bismillahi wa billahi, allahumma ‘aqiqatun ‘an fulan bin fulan, lahmuha bilahmihi si azhmihi, allahummaj’alha wiqaan liali muhammadin ‘alaihi wa alihis salam.”

Yang artinya: “Dengan nama Allah serta dengan Allah, Aqiqah ini dari fulan bin fulan, dagingnya dengan dagingnya, tulangnya dengan tulangnya. Ya Allah, jadikan aqiqah ini sebagai tanda kesetiaan kepada keluarga Muhammad SAW.”

Memasak Daging untuk Aqiqah Anak Perempuan

Tata cara aqiqah anak perempuan (dan laki-laki) selanjutnya adalah memasak daging hewan yang di kurbankan. Jumhur ulama lebih mengajurkan untuk memasak daging aqiqah terlebih dahulu sebelum membagikannya kepada orang-orang.

Hal ini di ungkapkan dalam kitab Atahzib yang di tulis Imam Al-Baghawi yang berbunyi: “Di anjurkan untuk tidak membagikan daging hewan aqiqah dalam keadaan mentah, akan tetapi di masak terlebih dahulu kemudian di antarkan kepada orang fakir dengan nampan.” (Imam Al-Baghawi dalam kitab Atahzib).

Mengonsumsi Sebagian Daging Aqiqah

Tata cara aqiqah anak perempuan selanjutnya adalah tentang bagaimana mengonsumsi dagingnya. Menurut hadis yang di riwayatkan al-Bayhaqi, daging aqiqah sebaiknya di masak terlebih dahulu dan di makan oleh keluarga, baru kemudian di bagikan kepada para kerabat dan tetangga.

Yang artinya: Aisyah r.a berkata, “Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia di masak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu di makan (oleh keluarganya), dan di sedekahkan pada hari ketujuh.” (HR al-Bayhaqi)

Dari hadis yang di riwayatkan al-Bayhaqi, sudah jelas di sebutkan bahwa daging aqiqah sebagian di makan. Sedangkan sebagiannya lagi di bagikan kepada orang-orang.

Sebagian daging aqiqah di berikan kepada keluarga Muslim yang melaksanakan aqiqah. Sementara sisanya dapat di bagikan kepada tetangga ataupun fakir miskin.